Rabu, 27 Mei 2009 Diposting oleh wushu gerak naga   4 komentar:

Dalam bahasa biologi, disebut 'Irita Bilita' : Upaya mempertahankan diri dari serangan luar.
Naluri dasar seperti itu pasti akan muncul dalam keadaan tertentu/terdesak, dan masing-masing pun melampiaskanya dalam bentuk yang berbeda-beda, sesuai dengan batas kemampuan yang dipunyai.
Khususnya bagi seseorang yang telah terbiasa berlatih beladiri, naluri/insting seperti itu yang dilatih agar bisa lebih peka, bahkan tidak hanya dapat digunakan pada saat terdesak saja.

Tapi,juga tidak boleh dilupakan aspek 'mengasihi' yang juga merupakan naluri dasar yang diberikan pada manusia.

Kesimpulanya, kedua naluri dasar ini harus dimanfaatkan secara secara seimbang. Jika salah satu saja timpang, maka bisa berakibat fatal suatu saat.

Kita hanya patut takut pada Allah, dan tidak ada satupun mahkluk yang paling hebat selain Dia.... Selengkapnya...

Minggu, 17 Mei 2009 Diposting oleh wushu gerak naga   2 komentar:

Kolonel Dave Grossman, seorang pendidik ilmu militer dalam bukunya "On Combat" (PPCT Publishing, 2007) menyitir sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa ternyata manusia juga memiliki golongan ratu, pejantan, pekerja dan prajurit... hal yang saya berlaku juga d dunia serangga. spesialisasi genetik seperti yang dimiliki serangga. Kalau kita melihat bahwa di dunia serangga terdapat penggolongan alami .

Penelitian itu menyebutkan bahwa sekitar 2% dari manusia dilahirkan dengan catatan genetik untuk menjadi golongan prajurit, yaitu orang-orang yang secara alami akan tertarik pada kegiatan yang berbau kekerasan, perang dan segala pernak-perniknya, meskipun tidak seperti serangga yang perbedaan fisik antara pekerja dan prajurit terlihat jelas. Sedikitpun ini bukan kesalahan, ini sama saja seperti orang-orang yang secara alami tertarik pada tari, bahasa, rekayasa (engineering), bisnis dan banyak lagi.

Penelitian ini menyebutkan bahwa orang yang pada dasarnya bukan prajurit, perlu pelatihan mental khusus untuk bisa berperang dengan baik. Di banyak kasus yang diteliti di berbagai perang sejak abad 19, ditemukan bahwa banyak prajurit yang gugur tanpa sempat menembakkan senjatanya, semata-mata karena mereka tidak sanggup membidik dan membunuh sesama manusia. Ini tidak berlaku untuk orang yang terlahir sebagai prajurit... mereka pembunuh efektif yang alami dan bahkan menikmati kegiatan tersebut. Buat mereka, senapan dan pisau adalah benda seni yang indah yang kerap dielus dan disayang, ilmu berkelahi adalah seni yang memiliki nilai yang dalam yang perlu ditekuni sampai ke cakrawala yang tak terbatas. Itulah panggilan jiwa.

Jadi kalau di masa kecil dulu kita beramai-ramai masuk MA, dan ketika teman-teman kita beramai-ramai pula pindah ke bidang lain sementara kita beberapa gelintir masih menikmati berlatih MA... maka itu memang cetak biru di dalam sel-sel yang kita bawa. Tuhan memang sudah menentukan demikian.

"IKUTI PELNGI, SAMPAI KAU MENEMUKAN JALANMMU SENDIRI"

Tinggal pertanyaannya buat kita-kita yang tidak berkarir di dunia prajurit, bagaimana supaya naluri dasar itu menjadi pendukung di kehidupan yang kita jalani... bukan malah jadi penghalang.
Selengkapnya...

 
Blogger Template By Lawnydesignz