Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Rabu, 16 Desember 2009 Diposting oleh wushu gerak naga   0 comments




Atlet Wushu Indonesia Susyana Tjhan menjaga penampilannya saat berlaga di nomor Changquan putri dan menyumbang medali emas di Lao Itecc Selasa (15/12).

Keyakinan Ketua Umum PB WI Master Supandi Kusuma akan torehan medali emas dari cabang olahraga yang dipimpinnya ini untuk kontingen Indonesia di SEA Games XXV/2009 Laos menjadi kenyataan.

Adalah Susyana Tjhan yang mewujudkan torehan medali emas tersebut. Mantan peraih medali perak Asian Games Qatar 2006 ini, pada lomba di Gedung Lao ITECC, Selasa (15/12) kembali menjadi yang terbaik di nomor Changquan putri setelah mendapat nilai 9,69.

Sehari sebelumnya, di nomor Jianshu ia memperoleh nilai 9.68. Gabungan nilai dari kedua nomor ini menjadikannya mengumpulkan total nilai 19.37. Tempat kedua nomor gabungan Jianshu dan Changquan putri ini, diduduki atlet Myanmar San Di Ho total nilai 1927 dan urutan ketiga Fong Chui Teng (Malaysia) total nilai 19.03. Sementara saingan terberat Susyana, Vu Tra My (Vietnam) justru terlempar dari enam besar. Vu justru terlempar ke urutan delapan.

Vu pada lomba nomor Jianshu sebenarnya berada di tempat kedua di bawah Susyana dengan nilai 9.67. Karenanya pada nomor Changquan ia coba meraih nilai lebih baik. Tapi tekadnya yang besar tadi justru menjadi bumerang. Saat melakoni lomba, ia melakukan kesalahan hingga sempat terjatuh sehingga poin yang didapatnya pun hanya 8.75 atau total 18.42.

Jatuhnya nilai Vu, coba ditutupi oleh rekannya Duong Thuy Vi yang tampil sebagai peserta kesembilan atau pamungkas di nomor Changquan. Namun diduga karena terlalu terburu-buru, gerakan terutama yang sifatnya lompatan kurang mulus. Ia mendapat poin 9.37 atau total 18.93 dan harus puas di tempat ketujuh.

Sukses Susyana disambut penuh sukacita oleh Ketua Umum Master Supandi Kusuma serta Tim Manajer Eisen Gauw serta seluruh atlet dan ofisial. Namun karena upacara pemenang baru akan dilakukan, Rabu (16/12), maka torehan medali ini belum masuk dalam daftar kontingen Indonesia.

|“Hasil ini cukup menggembirakan. Tapi kita tidak boleh terbuai. Keinginan kita minimal meraih dua medali emas,” ujar Master Supandi Kusuma. “Ya, kalau kalau boleh dikatakan, kita masih punya hutang satu medali emas lagi, sebab sejak awal kita menargetkan meraih dua medali emas,” tambah Tim Manajer Eisen Gauw. Master Supandi berharap, medali emas Susyana menjadi motivasi bagi pewushu-pewushu Indonesia lainnya untuk meraih prestasi serupa.

Masih Terbuka

Dijelaskan, peluang menambah pundi medali emas masih terbuka melalui Heriyanto, Lindswell maupun Aldi Lukman yang seluruhnya adalah binaan Yayasan Kusuma Wushu Indonesia (YKWI) Sumut.
Heriyanto pada laga Selasa kemarin menempati peringkat dua nomor Nanguan setelah mendapat nilai 9.65. Sementara peringkat pertama diduduki Pham Quoc Khanh dari Vietnam (9.70), dan urutan ketiga Soe Kyaw asal Myanmar (9.62), disusul Chea Peng Heng Kevan dari Malaysia (9.61). Sementara pewushu asal Sumut lainya yang turun di nomor ini, Johannes Bie sementara menempati peringkat kelima dengan nilai 9.60.

“Peluang Heriyanto masih terbuka, asal ia bisa tampil maksimal di nomor Nanguan akan dipertandingkan Rabu (16/12),” jelas Master Supandi. Pelatih Chen Weng Fu dan Sandri Liong juga menyatakan hal yang sama. Menurutnya, pada nomor Nanguan kemarin Heriyanto sudah tampil baik. Dan ia berharap, pada nomor Nangun nanti anak didiknya itu bisa bermain lebih tenang, sehingga meraih poin lebih maksimal.

Demikian pula halnya dengan Lindswell, yang Selasa kemarin turun di nomor Taijijian. Pewushu asal Sumut ini pada laga nomor Taijijian Selasa kemarin menempati tempat ketiga setelah mendapat nilai 9.60. Sementara urutan pertama ditempati saingan terberatnya asal Malaysia Chai Fong Ying (9.66). Tempat kedua Wilai Ratanawongsaro dari Thailand nilai sama dengan Lindswell, 9.60.
Kans meraih medali juga ada pada Aldi Lukman yang hari ini akan turun di nomor Gunshu putra. Diakui, persaingan di nomor gabungan Changquan dan Gunshu cukup ketat.

Aldi pada laga Changquan putra Senin kemarin menempati peringkat dua dengan nilai 9.69 atau hanya selisih 0.01 dari atlet Malaysia Ang Eng Chong. Sementara tempat ketiga Ng Say Yoke juga hanya kalah 0.01 poin dari Aldi. Karenanya, laga di nomor Gunshu Rabu pagi ini dipastikan berlangsung seru.

Sanshou Dua Final

Selain dari nomor Taolu, kans menambah pundi medali emas juga terbuka dari nomor sanshou menyusul lolosnya Zulfahmi Fitra Kelas 48 Kg dan Junaidi Sukamto Rahmat (Kelas 60 Kg) ke final.
Zulfahmi berhak tampil di final melawan Tran Van Kien setelah pada semifinal Selasa kemarin menang WO atas Sengthavyxay Chanthasone (Laos). Pesanshou tuan rumah tidak muncul di atas matras karena masih menderita cedera, sebelum dinyatakan menang diskualifikasi dari Tom Suepsangaat (Thailand) di perempatfinal.

Sedangkan Junaidi tampil memukau menang 2-1 atas pesanshou Myanmar Wai Lin Oo. Di final ia akan berhadapan dengan Bouapha Valasith yang kemarin menang 2-0 atas Labador Denver dari Pilipina. Indonesia masih menyisakan dua pesanshou di babak semifinal yang akan bertanding Rabu hari ini,yaitu Friska Ria Wibowo (Kelas 45 Kg putri) dan Gunawan (Kelas 52 Kg putra)

SUMBER : http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=37878:wushu-sumbang-medali-emas&catid=3:nasional&Itemid=128
Selengkapnya...

Selasa, 08 September 2009 Diposting oleh wushu gerak naga   0 comments

Yang dimaksud dengan "Sastra dapat menentramkan negara tetangga, wushu dapat menentramkan nusa bangsa", Wushu Tiongkok sudah eksis sejak zaman kuno, belakangan ini terkesan terjerumus ke dalam krisis show akrobatik.

Untungnya Kompetisi Akbar Wushu Tionghoa Seluruh Dunia diselenggara tak lama lagi, beberapa tokoh pakar ilmu silat berkumpul di Taipei, Taiwan sedang bertukar pikiran tentang kemuliaan Wushu tradisional.

Kompetisi Akbar Wushu Tionghoa Seluruh Dunia 2009 yang lama dinanti-nantikan bakal diselenggarakan Oktober mendatang oleh NTDTV (New Tang Dynasty Television). Babak penyisihan telah berlangsung telah berlangsung dengan sukses di berbagai tempat.

Babak penyisihan di Asia Pasifik kali ini, berlangsung 1 Agustus lalu, di GOR sekolah menengah Mingde - Taipei.

Chen Hong sebagai guru pembina yang tahun lalu memimpin timnya ikut kompetisi dan menyabet medali emas, tahun ini diundang untuk menjadi juri Babak penyisihan untuk wilayah Asia Pasifik. Ia baru kali pertama mengunjungi Taiwan, meluangkan waktunya untuk wawancara. Dengan antusias menuturkan pengalamannya selama 20 tahun melatih Wushu dan harapannya terhadap kompetisi kali ini.

Wushu pancarkan cahaya kemilau

Meski usia Chen Hong mendekati 50, namun wajahnya masih terlihat muda dan lincah, seperti baru tiga puluhan atau barangkali berkat telah lama berlatih Wushu, juga melatih grup anak-anak.

Ia adalah penduduk Hong Kong, saat berusia 10 tahun lebih meninggalkan kampung halaman merantau ke Boston-AS, dan tinggal di rumah pamannya yang memiliki sasana latihan Wushu.

Kala itu sedang demam film Bruce Lee. Sasana Wushu milik pamannya ikut terimbas popularitas tersebut dan ketika dibuka sudah langsung serentak membuka di beberapa tempat, maka Chen Hong menekuni belajar Wushu di sana.

Ia tidak membatasi dirinya pada aliran tertentu saja, kemudian ia mengisi mata pelajaran Wushu di sekolah Tionghoa. Selama 20 tahunan ini, murid-murid yang telah ia latih mencapai beberapa ratus orang.

Dibandingkan dengan berbagai daerah di dunia, minat orang Tionghoa AS yang mempelajari Wushu sangat tinggi. "Wushu sangat diminati di AS, setiap bulan dan setiap minggu, di berbagai tempat AS selalu ada kompetisi Wushu. Pada awalnya lebih mengutamakan Taekwondo dan Karate, namun kemudian Wushu Tiongkok menjadi acara paling populer."

"Oleh karena para orang tua menghendaki anak-anak mereka bersentuhan dengan kebudayaan Tiongkok, belajar kaligrafi dan Wushu. Selain itu orang AS sangat mementingkan keahlian, mereka berpendapat Anda telah mempelajari Wushu, dan memperoleh medali emas, itu adalah ketrampilan khusus, maka untuk mencari pekerjaan dan mendaftar ke sekolah sangat diminati."

Chen Hong dengan bangga mengatakan, Zhao Yun peraih medali emas tahun lalu adalah anak didiknya. Tak sampai beberapa tahun, murid kebanggaannya itu telah malang melintang di berbagai kejuaraan besar maupun kecil. Ia telah menyabet 40 lebih medali emas.

Karena berbagai kompetisi di AS cukup banyak, seperti Tinju Selatan, Tinju Cai Li Fu, senjata tombak, senjata pendek, Tai Ji Quan dan lain-lain, setelah mendalami salah satu aliran dan asalkan gerakan dasarnya bagus, mudah bagi mereka untuk mengombinasikannya.

Merebut medali pada saat kompetisi bukan lagi hal sulit. Pernah ada seorang muridnya dalam suatu kompetisi, berhasil membuat rekor dengan menyabet 7 buah medali sekaligus dalam satu hari, membuat orang berdecak kagum.

"Yang paling krusial akar bakat orang tersebut harus baik, berkualitas, sejak lahir tubuh yang berbakat diincar para ahli Wushu, sangat lentur, juga pandai, satu metode jurus, orang lain harus belajar beberapa hari, ia hanya butuh setengah jam. Apapun akan saya ajarkan kepadanya, asalkan bisa berhasil maka saya akan melatihnya, yang ia pelajari sangat banyak, ia sudah bisa buka sasana Wushunya sendiri."

Wushu: inti hakikat bangsa Tionghoa

Salah seorang pakar Wushu yang tak mau disebut namanya mengatakan, "Wushu Tiongkok sebetulnya adalah kelanjutan dari teknik bertempur tingkat tinggi, ia salah satu perangkat budaya Tionghoa. Dahulu kala para penyair dan sastrawan terkenal semua menguasai Wushu dengan baik."

"Coba lihat sewaktu Khonghucu mendidik para muridnya juga terdapat kurikulum Wushu, sedangkan patung Khonghucu selalu membawa pedang. Penyair besar Li Bai (baca: li pai) juga gemar berkelana sebagai pendekar, juga mendalami ilmu pedang. Orang yang belajar Wushu meski tingkat pendidikannya tidak tinggi, tetapi tutur kata dan pikirannya sangat tulus, sangat beradab."

"Dengan mempelajari Wushu, daya penyerapan dalam mempelajari kebudayaan Tionghoa bisa sangat kuat, seperti memperhatikan tata krama dan senioritas dari hirarki, sangat menghormati orang tua dan guru serta menyayangi anak kecil, itu adalah wajar saja, mengikuti guru bisa belajar hal-hal seperti itu. Sejak zaman dulu dalam pewarisan Wushu, ada banyak murid yang lebih unggul dari gurunya, tetapi murid selalu menghormati sang guru, memiliki semacam hubungan norma dan perasaan sentimental terhadap guru, secara tak nampak telah menjadi kekuatan yang menentramkan masyarakat."

Selanjutnya pakar wushu tersebut menyatakan, "Wushu bisa membatasi dan mewarnai seseorang, seperti ketika seseorang belajar Wushu dimulai dengan berlatih kuda-kuda, sebelum ada aba-aba dari guru, ia tak akan bergerak, begitulah cara membatasinya."

Wushu-Tiongkok tak peduli aliran apa pun harus ditempa dulu latihan dasarnya. Dahulu ada suatu pepatah yang mengatakan, "Orang yang berlatih Wushu jika dipukul adalah wajar, tetapi membiarkan orang lain memukulnya adalah tidak wajar. Orang yang berlatih Wushu tidak sembarangan menunjukkan kebolehannya."

Wushu-Tionghoa bila dibandingkan dengan teknik berkelahi bangsa lain ialah, wushu berakar di dalam kebudayaan, bukan berakar pada perkelahian itu sendiri. Orang yang berlatih Wushu walaupun pendidikannya tidak tinggi, tetapi yang berlatih Wushu setelah berlatih dalam kurun waktu tertentu, terlihat mereka mempunyai taraf kecakapan yang tinggi, seperti pernah mendapat pendidikan yang sangat lama, karena ilmu bela diri dari Tiongkok merupakan suatu kebudayaan yang kuno.

"Meskipun Wushu berakar pada kebudayaan, bukan untuk berkelahi, tetapi teknik tempurnya tidak bisa dianggap enteng, seorang manula yang berilmu tinggi bisa menghadang banyak lawan; seorang perempuan yang terlihat lemah (yang menguasai ilmu tersebut) juga memiliki daya mematikan, ini lantaran wushu bukan melatih "kekuatan otot", melainkan melatih "kekuatan dari dalam".

Chenhong juga mengatakan, "Pertandingan Wushu yang benar-benar, jika harus berduel dapat sangat berbahaya, tidak seperti anggar atau tinju dari barat serta pertandingan yang lainnya, mengenakan baju pelindung sudah cukup untuk mengantisipasi terluka. Wushu dari Tiongkok yang sebenarnya kekuatannya sangat dahsyat, daya mematikannya sangat besar, tetapi dari permukaan Anda tidak akan dapat melihatnya, jika dipertunjukkan sepertinya sangat indah, seperti dua orang yang sedang menari, akan tetapi semua jurus yang dikeluarkannya itu mematikan."

"Wushu dari Tiongkok juga tidak seperti teknik pertarungan yang lain, beringas dan galak, kekuatan tidak ditunjukkan, tetapi begitu bertanding sangat mudah membuat peserta terluka, dewasa ini masih tidak menemukan satu cara pertandingan yang bisa menjamin keselamatan dari pesertanya."

alt

Para murid kesayangan guru kenamaan Chen Hong (belakang tengah) di dalam kompetisi sering menggondol medali dan piala. (NEW EPOCH WEEKLY MAGAZINE)

Belajar Wushu banyak manfaatnya

Membicarakan manfaat anak-anak belajar Wushu, Chen Hong mengatakan, "Bisa membuat percaya diri." Dia menyinggung mereka yang baru berlatih saat hendak pentas untuk kali pertama mungkin bisa ketakutan hingga wajah jadi hijau, badan bergemetaran, tetapi setelah mengalami pelatihan yang berulang-ulang maka akan merasakan perubahan nyata dari murid itu, "Pada mulanya murid itu tidak mempunyai kepercayaan diri, mungkin akan memegang erat kaki orang tuanya tidak mau pentas, didorong keluar pun dia masih tidak mau. Tetapi setelah belajar pada akhirnya seluruhnya berubah, sudah memiliki gaya dan gagah sekali."

Banyak orang beranggapan orang yang belajar silat tidak cerdas dan tidak bisa meningkatkan IQ, sebetulnya tidaklah demikian. Chen Hong mengatakan, "Belajar Wushu bukan hanya mengandalkan pelatihan pukulan dan tendangan, juga harus memutar otak, menghafalkan kata kunci, mengingat jurus; apabila tidak telaten, tentu tak akan tahan, dengan sendirinya akan hengkang. Apabila ada anak jalanan yang khusus ingin menggunakannya untuk berkelahi, belum lama berlatih otomatis akan pergi karena tak betah. Saya kenal orang-orang di dalam sasana, kebanyakan bersifat tekun, sangat intelek; di sasana Wushu tidak ada orang jahat."

Chen Hong mengatakan ia memiliki seorang murid di AS, awal belajar posisi berdiri pun tidak bisa, juga tidak mengerti cara menggunakan kekuatan pada tubuh, keluarganya juga tidak bisa mengajarkannya hal ini, secara keseluruhan dia menampakkan keadaan yang tidak stabil. Setelah belajar dalam jangka waktu tertentu, secara keseluruhan ia mengalami perubahan, juga jadi lebih berkepribadian.

Tetapi Chen Hong juga mengeluh dan mengakui Wushu tradisional tidak bisa dikuasai dalam waktu singkat, "Sekarang banyak orang lebih memilih bermain basket dan tenis meja. Karena Wushu adalah semacam kultivasi, harus berani menderita. Orang zaman sekarang beda dengan dahulu, Anda menyuruhnya menderita, ia belum tentu bisa tahan."

Seorang pakar Wushu lainnya lagi menimpali, "Orang yang belajar bela diri punya percaya diri dan tak gampang marah. Orang-orang yang berlatih teknik bela diri, berlatih dengan karung pasir, menghantam dan menyerang. Ketika Anda tak henti menggebuki sand sack tersebut apakah yang Anda pikirkan? Materi yang dipancarkan (dari otak) tidak bagus. Ketika saya kecil, guru saya selamanya tidak melatih saya seperti itu (memikirkan musuh imajiner)."

Di situlah perbedaan Wushu dengan teknik bela diri lainnya, tak heran pendekar yang berilmu tinggi memiliki semacam sikap ksatria yang santun.

Ahli Wushu ini berkata, "Pengaruh Wushu adalah untuk seumur hidup. Setelah belajar Wushu, kita bisa serasa diasimilasi oleh budaya semacam itu, refleksi terhadap orang lain juga berbeda. Misalnya ada orang yang memegang tangan Anda, umumnya orang jadi kelabakan, perhatiannya semua ditujukan pada tangan yang terpegang, semakin tidak mudah untuk melepaskannya. Tetapi jika orang tersebut pernah berlatih Wushu, segera mengerti bagaimana menyerang kelemahan lawan, membuat lawan langsung terserang."

Wushu menanti untuk dikembangkan

Wushu Tiongkok berusia sangat panjang, namun sedang menghadapi krisis musnah. Karena senam dan akrobat telah dimasukkan ke dalam inti Wushu tradisional, sehingga Wushu berubah menjadi cakue besar.

Di dalam wawancara, pakar wushu tersebut berkata, "Karena Wushu adalah sebuah kebudayaan kuno, dahulu kitab Wushu ditulis dalam bahasa kuno, sedangkan Wushu juga harus melalui pemahaman pribadi. Ada yang suka keras, ada yang condong lunak, ada yang keras dan lunak seimbang, setiap orang bakatnya berbeda, maka itu masih harus melalui pewarisan dan pelatihan dari guru baru betul. Semakin tua sang guru, pengalamannya semakin mendalam. Pemahamannya tentang wushu tentu melebihi orang muda. Di saat kita berlatih, harus menggali dengan jelas setiap aliran itu, jangan seperti sekarang ini gado-gado. Tentu Anda bisa saja belajar Bagua, Taichi, Shaolin dan lain-lain, tetapi tak dapat dicampur-adukkan. Kebudayaan Tiongkok dengan kebudayaan Barat tentu berbeda."

"18 macam senjata tradisional wushu sangat bagus dipandang. Tetapi banyak orang merasa tanpa panggung, percuma saja. Itulah mengapa melalui kompetisi ini, mereka bisa membuatnya lebih berjaya. Kini NTD menghimbau lagi, saya kira jasanya ini sangat besar."

"Saya kira jika NTD terus mempertahankan untuk membesarkannya, ini adalah sangat terpuji, saya ketika masih kecil menganggap Wushu paling bagus ditonton, begitu perayaan tahun baru tiba, Wushu adalah pertunjukan yang paling populer, tetapi orang sekarang sudah tidak menggemarinya lagi karena pertandingan setiap pertandingan diberi aturan ini dan itu, sudah tentu membuatnya tidak enak ditonton."

"Wushu sudah mencapai puncaknya, seperti melukis kaligrafi tidak bisa mengungguli Dinasti Jin, menulis syair tidak bisa menandingi Dinasti Tang, menulis sajak tidak bisa menyamai Dinasti Song, setiap dinasti memiliki masa puncaknya masing-masing, maka itu saya kira kita tetap bisa mewariskan untuk seterusnya, itu paling baik, bisa atau tidak semuanya tergantung upaya kegigihan kita.." [admin/TheEpochTimes]

Selengkapnya...

Senin, 31 Agustus 2009 Diposting oleh wushu gerak naga   0 comments

Atlet wushu, Lindswel memiliki target khusus tampil di kejuaraan dunia wushu senior di Kanada, pada 20-26 Oktober. "Sebagai peraih medali emas di kejuaraan dunia junior di Bali tahun 2008, atlet asal Medan ini ingin menembus prestasi dunia di kategori senior," ujar salah seorang pengurus PB Wushu Indonesia yang juga wasit wushu Internasional, Iwan Kwok di Jakarta, Sabtu.

Prestasi ditingkat junior memang tidak bisa dijadikan patokan untuk mengulang sukses di Kanada. Namun semua itu bisa dijadikan modal sebelum turun di kejuaraan dunia wushu senior nantinya.

"Saya mengakui tampil di kejuaraan dunia senior persaingan cukup ketat. Peserta yang tampil bisa mencapai 80 negara seperti di Beijing tahun 2008,"ujarnya. Sementara di kejuaraan wushu dunia junior di Bali diikuti 45 negara. Dengan begitu persaingan masih biasa saja, ketimbang tampil di Beijing pada tahun yang sama. Bahkan tingkat kesulitan jurus yang dibawakan tidak begitu rumit ketimbang di tingkat senior.

"Untuk jenjang junior jurus yang dilakukan atlet tidak diikuti dengan gerak loncatan. Namun ditingkat senior loncatan atlet dalam membawakan jurus sudah diperhitungkan dan menghasilkan nilai. Kesulitan seperti itu yang harus dipelajari pewushu Indonesia sebelum turun di Kanada,"ujar Iwan.

Iwan mengatakan, meski usia Lindswel kali ini tergolong junior (16 tahun), namun sudah mempunyai pengalaman tanding ditingkat senior saat tampil di Beijing tahun 2008 masuk ranking enam besar.

Prestasi yang dimiliki atlet asal Medan itu tinggal dipoles sedikit lagi untuk meraih prestasi dunia di Kanada nantinya. Bila hal itu memenuhi persyaratan, maka peluang menyuguhkan medali bagi atlet nasional cukup besar.

Selain Lindswel, pewushu nasional yang diturunkan dalam kejuaraan dunia nanti adalah, Ivana, Susyana di putri dan di putra adalah Heriyanto, Aldi Lukman, Fredi A dan Charli S.
Para atlet tersebut merupakan tempaan dalam Program Atlet Andalan (PAL). Tampil di kejuaraan dunia dapat dijadikan uji tanding sebelum diturunkan di SEA Games XXV Laos, Desember mendatang.

Hal itu yang membuat PB WI menurunkan atletnya seoptimal mungkin di kejuaraan dunia di Kanada. Selain atlet PAL, atlet Pelatnas mini boleh tampil di Kanada, dengan catatan berpeluang ukir prestasi bagi merah putih. [adm/analisa]
Selengkapnya...

Jumat, 28 Agustus 2009 Diposting oleh wushu gerak naga   1 comment

Jakarta - Sekjen PB WI Ngatino mengatakan atlet wushu Susyana diundang tampil di kejuaraan dunia wushu senior di Kanada 20-26 Oktober mendatang.

"Susyana mendapat undangan turun di kejuaraan dunia di Kanada, setelah meraih medali perunggu di Beijing tahun 2008," kata Ngatino seperti dikutip Antara, di Jakarta, Kamis. Selain menurunkan Susyana, PB WI juga akan menurunkan atlet lainnya di Kanada.

Menampilkan atlet lain untuk mendampingi Susyana, menurut Ngatino, tidak lain agar prestasi yang dimiliki juga mengalami kemajuan. Seperti halnya Lindswel yang pernah masuk urutan enam besar di kejuaraan dunia di Beijing tahun 2008. Begitu juga dengan atlet nomor taulho lainnya seperti, Harijanto, Fredi, David H dan Charles S. Adapun atlet dari nomor sansho, tercatat Zulfahmi, Gunawan, dan beberapa atlet lainnya yang digodok dalam Pelatnas SEA Games.

Menurunkan atlet nasional di kejuaraan dunia, katanya, dapat dijadikan pelajaran berharga sepulangnya ke tanah air karena sebagian besar atlet yang ditampilkan di Kanada itu merupakan atlet yang digodok dalam Program Atlet Andalan (PAL) maupun Pelatnas Mini.

"Saya berharap atlet yang tampil di kejuaraan dunia mampu meraih sukses. Dengan harapan saat diterjunkan di SEA Games XXV di Laos, Desember mendatang mampu menyuguhkan medali emas bagi Indonesia," katanya. Tradisi emas itu harus dipertahankan dengan jalan mempersiapkan atlet seoptimal mungkin dengan memberikan latihan ujicoba di berbagai event internasional. [adm/tvone]

Selengkapnya...

Diposting oleh wushu gerak naga   0 comments

Banyak hal yang dilakukan selebritis untuk menunggu waktu berbuka. Mantan penyanyi cilik Sherina bahkan menyempatkan diri untuk berlatih wushu sambil menunggu berbuka puasa.

"Aku olahraga, yang pastinya aku wushu sambil menunggu buka puasa. Ya bisa dibilang ngabuburit gitu deh," ujar pemilik nama asli Sherina Munaf ini, di stasiun televisi RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Minggu 23 Agustus 2009.

Dibulan Puasa ini , Sherina tetap menjalani pola hidup sehatnya seperti hari biasanya. Dengan makan dan olahraga yang teratur. Jus wortel, kencur, kunyit dicampur susu kedelai. Jadi menu favorit Sherina selama puasa.

Dia juga menuturkan, bahwa dirinya lebih memilih mengkonsumsi bahan-bahan alami dan tradisional untuk kebutuhan tubuhnya.

"Ya, aku enggak pakai obat. Aku hanya mengonsumsi buah-buahan, kunyit, jahe, kencur, air putih. Jadi, lebih efektif aja," ujar dara kelahiran Bandung, 11 Juni 1990 itu.

Menurut Sherina, berobat lebih berisiko, seluruh kiat sehat itu dia tahu dari keluarga dan dari membaca. [adm/tvone]
Selengkapnya...

Diposting oleh wushu gerak naga   0 comments

Jakarta - Cabang karate dan wushu menyumbangkan medali terakhir bagi kontingen Indonesia di "Asian Martial Arts Games I" (AMAG) di Bangkok, Thailand, Sabtu.

Karateka Hendro Salim menjadi penyumbang medali terakhir setelah dia di final dikalahkan Ryosuke Shimizu 1-4 dari Jepang pada pertandingan di kelas kumite putra -84 kg di Indoor Stadium Huamark Sport Authority, Bangkok.

Setelah wushu menyumbangkan medali perunggu, kontingen Indonesia yang mengikuti lima cabang olahraga pada event ini akhirnya mengantongi lima medali emas, enam perak dan lima perunggu.

Karateka Jepang menguasai hari terakhir karate dengan meraih dua medali emas, satu lainnya melalui Sayuri Maejima yang menjinakkan Chan Ka dari Hong Kong dengan skor 8-3 di final kelas 61 kg kumite putri.

China meraih sisa medali emas di 84 kg kumite putra setelah Li Peng menundukkan Khalid Khalidov dari Kazakhstan 3-1.

Hari terakhir karate menyediakan sisa tiga medali emas dari 10 emas keseluruhan yang diperebutkan.

Dari keseluruhan pertandingan yang berlangsung sejak 1 Agustus lalu dan akan ditutup Minggu (9/8), tuan rumah Thailand tampil sebagai juara umum dengan meraih 54 keping medali terdiri atas 21 medali emas, 16 perak dan 17 perunggu.

Manajer Tim Karate Indonesia, Djafar Djantang melalui telefon internasional mengatakan, Hendro tidak bisa lepas dari tekanan saat bertanding di final melawan karateka Jepang yang pada hari terakhir meraih dua medali emas.

"Hendro memang terlihat takut berbuat salah. Saat bermain tadi dia lebih memilih menunggu menyerang. Seharusnya dia bermain all-out. Shimizu sebenarnya lebih suka menunggu dan baru menyerang saat posisi lawan melayang," ujarnya.

Hendro memulai perburuan medali dari babak perempatfinal karena mendapat wild card. Hendro kemudian menang telak 10-2 menghadapi karateka Kuwait Ahmad Aldousari, dan tiket final diraihnya setelah menundukkan Gang Qu dari China dengan skor 6-2.

Djafar mengatakan, pada pertandingan final Hendro memang terlihat kurang fokus. Kondisinya semakin kritis karena waktunya juga hampir habis.

"Tapi hasil ini sudah bagus karena persaingannya sangat ketat,? ujar Djafar Djantang.

Sementara wushu menambah medali perunggu melalui Moria Manalu setelah ditaklukkan Hua Zhang dari China 0-2 di kelas sanshou 56 kg.

Manajer Tim Wushu Lambertus mengatakan, dalam pertandingan itu atletnya sempat dicurangi ketika serangan yang berbuah angka tidak dihitung, namun ia tak melakukan protes.

"Kami sudah merekam semua pertandingan. Setelah sampai di Jakarta, kami akan putar ulang sambil diamati. Secara umum, teknik bertanding perlu variasi. Kami juga akan memperbaiki mental atlet untuk persiapan ke arena SEA Games nanti," ujarnya. [adm/antara]
Selengkapnya...

Sabtu, 08 Agustus 2009 Diposting oleh wushu gerak naga   2 komentar:

Liputan6.com, Huangsan: Cina menggelar sebuah turnamen Wushu selama akhir pekan di Pegunungan Kuning, Huangsan, Provinsi Anhui, sebelah timur Cina, belum lama ini. Tidak seperti turnamen Wushu sebelumnya, Turnamen Asosiasi Master Wushu (WMA) yang untuk pertama kalinya digelar ini, lebih banyak mempertandingkan duel ketimbang kesempurnaan gerak.

Alhasil, beberapa atlet gagal mempertunjukkan jurus-jurus cantik dan lebih memikirkan bagaimana caranya untuk mengkandaskan lawan. Siasat ini sengaja dilakukan Cina yang menginginkan cabang olah raga tradisional mereka untuk dipertandingkan di Olimpiade.

Sebanyak enam tim Wushu dari seluruh penjuru Cina pun ikut serta dalam kejuaran yang juga disebut sebagai Liga Wushu. Poin dalam pertandingan diperoleh berdasarkan 30 gerakan tradisional Wushu. Kedua atlet yang bertanding dilarang menggunakan sarung tangan dan mengincar kepala.

Hingga saat ini, Wushu masih dipandang sebagai cabang olahraga yang mengedepankan sisi keindahan gerak ketimbang duel. Saat ini, lebih dari 80 juta penduduk Cina bisa mempraktekkan jurus-jurus Wushu. Cina berharap, olahraga tradisional mereka mampu meraih status seperti Taekwondo yang bersal dari Korea dan Judo yang berasal dari Jepang untuk dipertandingkan di ajang Olimpiade.
Selengkapnya...

Kamis, 06 Agustus 2009 Diposting oleh wushu gerak naga   0 comments

Liputan6.com, Kaoshiung: Indonesia harus puas meraih medali perunggu dari cabang wushu melalui atlet Susyana Tjhan yang berlaga di kategori changquan putri, pada kejuaran World Games 2009 di Kaoshiung, Taiwan, Kamis (23/7). Medali emas dan perak masing-masing menjadi milik atlet Rusia, Daria Tarasova dan Vu Tra My asal Vietnam.

Sementara itu, Cina terlihat mendominasi kemenangan di cabang renang sirip. Ini merupakan cabang olahraga dimana para atlet berenang menggunakan sirip karet dan snorkel untuk mencapai titik finis. Di kategori 50 meter putri renang sirip, Zhu Baozhen mencatat waktu tercepat 15,1 detik disusul rekan senegaranya Xu Huanshan di posisi kedua, dan Yana Kasimova asal Rusia di posisi ketiga.

Sedangkan di 100 meter putra, lagi-lagi atlet Cina meraih medali emas. Miao Jing Wei berhasil menang dengan catatan waktu 35,95 detik. Sementara medali perak dan perunggu masing-masing menjadi milik Dmytro Sydorenko asal Ukraina, dan Andrea Nava asal Italia.

Cina lagi-lagi menyorot perhatian dengan kemenangannya dalam lomba rintangan 200 meter putri. Atlet Ling Yu berhasil memperoleh medali emas dengan catatan waktu 2 menit 8,11 detik, mengalahkan rekan senegaranya Yang Jie Qiao dan Yang Chin Kuei asal Taiwan. Untuk kategori putra, Zhang En Jian yang juga dari Cina berhasil menambah perolehan emas Cina. Zhang bahkan memecahkan rekor dunia dengan mencatat waktu tercepat 55,01 detik. Saingannya Federico Pinotti asal Italia, dan Benjamin Bilski asal Jerman hanya mampu berpuas hati dengan perolehan medali perak dan perunggu.

Kejuaraan World Games berlangsung sejak 17 Juli 2009 lalu. Posisi teratas klasemen sementara ini masih diungguli Rusia dengan perolehan total 11 medali emas. Sedangkan Cina berada di posisi kedua dengan total 10 medali emas, dan Prancis di tempat ketiga dengan delapan emas. World Games adalah ajang yang mempertandingkan olahraga non-cabang pertandingan Olimpiade.

Selengkapnya...

Rabu, 29 Juli 2009 Diposting oleh wushu gerak naga   0 comments

Jakarta: Seni beladiri yang dikenal dengan sebutan Wushu menarik minat atlet-atlet muda tanah air. Bahkan, tidak sedikit yang meraih prestasi di tingkat internasional.

Seni beladiri Wushu ini berasal dari daratan Tiongkok. Wushu berasal dari kata Wu yang berarti ilmu perang, dan Shu yang berarti seni. Wushu tak hanya mengajarkan Shan Shau atau seni pertarungan, tapi juga Taolo atau seni keindahan, serta Tai Chi yakni seni pernafasan.

Bagi sebagian orang tua, latihan Wushu memiliki banyak manfaat. Selain menyehatkan, Wushu juga berguna untuk perlindungan diri.

Wushu juga bisa dijadikan pengukir prestasi. David Hendrawan misalnya, sudah sebelas tahun menekuni olahraga yang menyelipkan keindahan gerak ini. Oleh karenanya, ia sempat meraih medali perak di Pekan Olahraga Nasional 2008, serta juara 7 se-Asia di Macau, Cina, dan juara pertama se-Indonesia pada 2007. [adm/liputan6]
Selengkapnya...

 
Blogger Template By Lawnydesignz